Syarah Sahih Muslim: Hadis-Hadis tentang Mimpi Bertemu Nabi ﷺ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.
بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي
(Bab Sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa Melihatku dalam Mimpi, Maka Sungguh Ia Telah Melihatku”)
Hadis-Hadis tentang Mimpi Bertemu Nabi ﷺ
Diriwayatkan melalui berbagai sanad dari Abu Hurairah dan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah ﷺ bersabda:
- مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي”Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku.”
- مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ، أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ، لَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي”Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga, atau seakan-akan ia melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tidak dapat menjelma sepertiku.”
- Dari Abu Qatadah, Rasulullah ﷺ bersabda, “مَنْ رَآنِي فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ” (Barangsiapa melihatku, maka sungguh ia telah melihat sesuatu yang benar).
- مَنْ رَآنِي فِي النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِي”Barangsiapa melihatku dalam tidur (mimpi), maka sungguh ia telah melihatku, karena tidak pantas bagi setan untuk menyerupaiku.”
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makna “Melihatku”
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan sabda Nabi ﷺ “فَقَدْ رَآنِي” (maka sungguh ia telah melihatku).
1. Pendapat Al-Baqillani: Mimpi yang Benar
Menurut Al-Baqillani, maknanya adalah mimpi tersebut benar dan sahih, bukan mimpi kosong (أَضْغَاث) atau jelmaan setan. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat lain yang berbunyi “فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ” (sungguh ia telah melihat kebenaran). Menurut pandangan ini, mimpi tersebut tetap benar meskipun orang tersebut melihat Nabi ﷺ dalam wujud yang berbeda dari sifat fisik beliau yang dikenal, misalnya melihat jenggot beliau telah memutih.
2. Pendapat Al-Maziri: Melihat Dzat Nabi Secara Hakiki
Al-Maziri berpendapat bahwa hadis ini harus dipahami secara zahirnya, yaitu siapa pun yang bermimpi bertemu Nabi ﷺ, maka ia benar-benar telah melihat diri (dzat) beliau. Adapun jika ia melihat beliau dalam wujud yang tidak sesuai dengan sifat aslinya, maka yang keliru adalah imajinasinya dalam menggambarkan sifat-sifat tersebut (صِفَاتُهُ مُتَخَيَّلَةٌ), bukan penglihatannya terhadap dzat Nabi itu sendiri. Jadi, yang dilihat adalah dzat Nabi, namun sifatnya terdistorsi oleh imajinasi si pemimpi.
3. Pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh: Harus Sesuai Sifat Fisik
Al-Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa mimpi bertemu Nabi ﷺ hanya dianggap benar jika orang tersebut melihat beliau sesuai dengan ciri-ciri fisik beliau yang telah dikenal semasa hidupnya. Jika ia melihat dalam wujud yang berbeda, maka itu adalah mimpi takwil (membutuhkan interpretasi), bukan mimpi hakiki yang melihat dzat Nabi secara langsung. Imam An-Nawawi menilai pendapat ini lemah (ضَعِيف).
Hikmah Perlindungan dari Penjelmaan Setan
Allah SWT memberikan kekhususan kepada Nabi ﷺ di mana setan tidak dapat menjelma dalam wujud beliau, baik dalam mimpi maupun dalam keadaan terjaga. Ini adalah bentuk perlindungan dari Allah, sebagaimana Dia melindungi para nabi dengan mukjizat. Tujuannya adalah agar kebenaran tidak bercampur aduk dengan kebatilan, sehingga ajaran yang dibawa oleh Nabi ﷺ tetap terjaga kemurniannya dan dapat dipercaya sepenuhnya.
Makna “Akan Melihatku dalam Keadaan Terjaga”
Adapun sabda Nabi ﷺ “فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ” (maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga), para ulama memberikan beberapa penafsiran:
- Bagi orang yang hidup sezaman dengan beliau: Maksudnya, orang yang bermimpi bertemu beliau (namun belum pernah bertemu langsung atau belum hijrah) akan Allah berikan taufik untuk dapat bertemu beliau secara fisik.
- Bagi generasi setelahnya: Maksudnya, ia akan melihat kebenaran mimpinya di akhirat kelak. Seluruh umat Nabi ﷺ akan melihat beliau di akhirat.
- Penglihatan yang Khusus: Maksudnya, ia akan mendapatkan penglihatan yang istimewa di akhirat, yaitu kedekatan dengan beliau, mendapatkan syafaatnya, dan keutamaan lainnya.
Kesimpulan
Mimpi bertemu Rasulullah ﷺ adalah sebuah anugerah dan kemuliaan. Para ulama, seperti Syekh Abdul Muhsin al-‘Abbad, menekankan pentingnya mencocokkan apa yang dilihat dalam mimpi dengan ciri-ciri fisik Nabi ﷺ yang termaktub dalam kitab-kitab Syamail Muhammadiyah. Jika ciri-cirinya sesuai, maka itu adalah mimpi yang benar dan ia benar-benar telah melihat Rasulullah ﷺ. Jika tidak, maka itu bukanlah Rasulullah.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari sifat-sifat dan sejarah Nabi ﷺ. Semoga kita semua dianugerahi kemuliaan untuk dapat melihat beliau dalam mimpi dalam wujudnya yang asli.
وَاللهُ أَعْلَمُ. Mudah-mudahan bermanfaat.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
