0%
Kembali ke Blog

Larangan Mengintip dan Adab Melihat yang Tidak Disengaja

21/05/2025 94 kali dilihat 8 mnt baca

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا.

Kita melanjutkan kajian dari Sahih Muslim, Kitabul Adab, bab تَحْرِيمُ النَّظَرِ فِي بَيْتِ غَيْرِهِ (Bab haram melihat ke dalam rumah orang lain).

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالَا أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ – وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى – ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُنِي لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ.

وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يُرَجِّلُ بِهِ رَأْسَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ، إِنَّمَا جَعَلَ اللَّهُ الْإِذْنَ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ.

Dengan sanadnya kepada Sahl bin Sa’ad Assa’idi, dia memberitahukan أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (bahwasanya ada seorang yang mengintip di rumah, di sebuah rumah atau di sebuah lubang di pintu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, atau mengintip di sebuah rumah dari sebuah celah dari rumahnya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ. (Ketika itu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sedang memegang sisir yang digunakan untuk menggaruk kepalanya). فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُنِي لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ. (Tatkala Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melihatnya, beliau bersabda, “Kalau seandainya aku mengetahui engkau mengintipku, sungguh atau pastilah aku akan menusuk matamu dengan sisir ini.”) وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. (Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Sesungguhnya minta izin itu disyariatkan karena untuk melihat sesuatu yang dibolehkan.”)

Riwayat yang kedua, Sahal bin Sa’ad dia mengatakan bahwasanya أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (Ada seorang, dia melihat, mengintip dari lubang dari pintu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Bersama Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ada sisir yang beliau biasa menyisir rambutnya. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ، إِنَّمَا جَعَلَ اللَّهُ الْإِذْنَ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. (Lalu Rasulullah, “Kalau seandainya aku mengetahui engkau melihat, yakni mengintip, pasti aku telah menusuk matamu dengan ini. Sesungguhnya Allah mensyariatkan izin karena gara-gara pandangan.”)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa مِدْرًى يُرَجِّلُ بِهِ رَأْسَهُ. الْمِدْرَى بِكَسْرِ الْمِيمِ وَإِسْكَانِ الدَّالِ الْمُهْمَلَةِ بِالْقَصْرِ، وَهِيَ حَدِيدَةٌ يُسَوَّى بِهَا شَعْرُ الرَّأْسِ. (Dia adalah besi, Midra ini adalah besi untuk meratakan rambut). Ya, ini sama dengan sisir, tapi sisirnya ini terbuat dari besi. وَقِيلَ: هُوَ شِبْهُ الْمِشْطِ. وَقِيلَ: عُودٌ أَوْ حَدِيدَةٌ تُجْعَلُ. (Dia mirip dengan sisir. Dikatakan dia adalah kayu-kayu yang dibuat, ya, seperti mirip dengan rambut, ee ee sisir, mirip dengan sisir).

Ungkapan beliau yang mengatakan لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْتَظِرُنِي (dalam riwayat yang lain تَنْظُرُنِي), yakni maksudnya yaitu melihat dari lubang tadi. فِي جُحْرٍ ya, bukan فِي حُجْرٍ, فِي جُحْرٍ فِي الْبَابِ. مِنْ جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yakni خَرْقٌ (yakni ada lubang di pintu itu). Jadi dia mengintip dari lubang tadi.

Lalu Nabi mengatakan, “إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ.” Maknanya أَنَّ الِاسْتِئْذَانَ مَشْرُوعٌ وَمَأْمُورٌ بِهِ إِنَّمَا جُعِلَ لِئَلَّا يَقَعَ الْبَصَرُ عَلَى الْحَرَامِ. (Bahwasanya izin itu, meminta izin itu disyariatkan dan diperintahkan karena gara-gara untuk melihat. Kalau tidak diizinkan berarti tidak boleh melihat, apalagi kalau seandainya melihatnya diam-diam. Sesungguhnya izin itu dibuat atau disyariatkan supaya pandangan ini tidak melihat sesuatu yang diharamkan). فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْظُرَ فِي جُحْرِ بَابٍ وَلَا غَيْرِهِ مِمَّا هُوَ مُتَعَرِّضٌ فِيهِ لِوُقُوعِ بَصَرِهِ عَلَى امْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ. (Maka tidak halal bagi seseorang untuk melihat dari lubang pintu atau yang lainnya yang memungkinkan dia di situ untuk melihat sesuatu atau melihat kepada perempuan yang asing, perempuan yang bukan mahram). Karena ketika seorang melihat ke dalam rumah orang lain, ya sangat memungkinkan dia melihat ya, perempuan ya, yang bukan mahramnya dalam keadaan yang tidak pantas untuk dilihat oleh orang yang bukan mahram.

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ جَوَازُ رَمْيِ عَيْنِ الْمُطَّلِعِ بِشَيْءٍ خَفِيفٍ. (Di dalam hadis ini, terdapat faedah yaitu bolehnya melempar sesuatu yang ringan ke mata orang yang mancibuak ya, orang yang mengintip). فَلَوْ رَمَاهُ بِخِفَافٍ فَفَقَأَهَا فَلَا ضَمَانَ، لَا قِصَاصَ وَلَا دِيَةَ. (Kalau dia lempar tadi dengan sesuatu yang ringan, ternyata itu menyebabkan matanya kena sehingga buta, tidak ada tanggung jawabnya, tidak ada qisas, tidak ada ganti rugi). Ya. إِذَا كَانَ قَدْ نَظَرَ فِي بَيْتٍ لَيْسَ فِيهِ امْرَأَةٌ مَحْرَمٌ. (Apabila dia telah melihat di rumah yang di situ bukan terdapat wanita yang mahram). Ya. Jadi kalau di rumah orang lain lah, maka enggak boleh dia ngintip. Kalau ada orang ngintip ketahuan bagi dia, ya, “Kok ada orang ngintip?” Wahnya. Ya. Lalu dia lempar dengan sesuatu atau dengan apa? Batu gatang enggak. Ternyata sama dia ada semen diginikan ke anunya kan, masuk ke matanya akhirnya menjadikan matanya buta, ya, maka tidak ada ضَمَانٌ (tidak ada ganti rugi, tidak ada qisas).

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ – وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى وَأَبِي كَامِلٍ – قَالَ يَحْيَى: أَخْبَرَنَا. وَقَالَ الْآخَرَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي بَعْضِ حُجَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ بِمِشْقَصٍ أَوْ مَشَاقِصَ، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتِلُهُ لِيَطْعُنَهُ.
Dari Anas bin Malik, dia mengatakan ada seseorang yang mengintip di sebagian rumah Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَامَ إِلَيْهِ بِمِشْقَصٍ أَوْ مَشَاقِصَ. Lalu Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menghampirinya dengan membuat sebuah anak panah yang bermata lebar. فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتِلُهُ لِيَطْعُنَهُ. Seakan-akan saya melihat Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ seakan-akan aku melihat beliau mengintai, menusuk mata itu dengan anak panah. Jadi ketahuan, “Wah, ini ada ngintip nih,” mendekati ke situ mau ditusuk.

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ.
Dari Abi Hurairah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ dari Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda, “Barang siapa melihat di rumah satu, di ke dalam rumah satu kaum tanpa seizin mereka, maka sungguh telah halal bagi mereka itu untuk mencungkil matanya.”

قَالَ الْعُلَمَاءُ: مَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا اطَّلَعَ فِي بَيْتِ الرَّجُلِ فَرَمَاهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأَ عَيْنَهُ.
Hal ini dipahami bahwa apabila dia melihat di rumah seseorang, lalu orang yang punya rumah itu melemparnya dengan sesuatu kecil, ya, dilemparnya lalu tercongkel matanya atau kena matanya sehingga menyebabkan matanya keluar atau buta.
وَهَلْ يَجُوزُ رَمْيُهُ قَبْلَ إِنْذَارِهِ؟
Apakah boleh melempar mata tadi yang sedang ngintip tanpa atau sebelum diberitahu? Ya, ini maksud begini, tahu dia ini dia lagi ngintip. Apakah langsung boleh dilempar matanya itu atau perlu diberitahu dulu? “Hai, macam-macam caliak-caliak dia, ya, dilempar biko.” Eh, ternyata tetap juga dia gitu, ya. Baru dilempar atau boleh dilempar tanpa diberitahu?
فِيهِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا، أَصَحُّهُمَا جَوَازُهُ قَبْلَ الْإِنْذَارِ لِظَاهِرِ هَذَا الْحَدِيثِ.
Ada dua pendapat menurut mazhab, menurut ulama Syafi’i. Yang lebih kuat atau yang lebih benar dari dua pendapat itu, boleh melemparnya sebelum diberitahu. Ya. Apa dasarnya? Melihat kepada zahir dari hadis ini. Karena Nabi tidak memberitahu di situ. Nabi tidak negur tapi malahan langsung mau beliau lakukan gitu lho. Ketika beliau mengatakan, “Sungguh aku mengatakan,” berarti tidak ee memberitahu dulu, tapi keinginan untuk melakukannya itu sudah ada.

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَأَبُو عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جُحْرٍ فِي بَابِهِ وَمَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى فَقَالَ: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ تَنْظُرُ لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ، إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. (Ini hadis yang mirip dengan yang pertama, mungkin ada perbedaan sanad atau lafaz minor).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوِ اطَّلَعَ عَلَيْكَ أَحَدٌ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ.
Dari Abi Hurairah رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Kalau seandainya ada seseorang mengintipmu tanpa izin, melihat secara diam-diam tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil, dengan kerikil atau menjentiknya gini ya, lantas matanya kena buta atau kena keluar dan lain-lain, maka kamu tidak punya dosa.” خَذَفَ itu adalah meletakkan batu di antara dua jari, apa namanya? Dakik, menjentik. Ya, seperti mengkelereng, ya, kena dia matanya kan gitu.

Bab terakhir dari kitab ini adalah الْفُجَاءَةُ. Maksud dari فُجَاءَةٌ ini adalah pandangan yang tiba-tiba, pandangan yang tidak disengaja. Tacaliak, kalau tadi baca ya ee mancibuak tadi, kalau tacaliak.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ كِلَاهُمَا عَنْ يُونُسَ. ح وَحَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي.
Dari Jarir bin Abdillah, dia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang pandangan yang tidak disengaja, pandangan yang tiba-tiba.” Ya, الْفُجَاءَةُ makna نَظَرُ الْفُجَاءَةِ (فُجَاءَةٌ فُجَاءَةٌ) أَنْ يَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى الْأَجْنَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ. Itu pandangannya melihat wanita yang bukan mahram tanpa disengaja, tercaliak gitu ya. فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ فِي أَوَّلِ ذَلِكَ. Di awal pandangan itu tidak ada dosa. Awal pandangan berarti awal pandangan. Apakah sekali caliak itu ditahan pandangannya? Ya, tercaliak langsung berhenti pandangan di situ, taruih aja. Ya kan ada yang mengatakan yang pertama untukmu, yang kedua dosa bagimu, kan gitu kan. Tapi yang sekali, yang pertama itu langsung enggak berhenti pandangnya, ya, pandangan awal, pandangan itu tidak ada dosa. Kadang-kadang kan ketika pandangan tak sengaja itu sebentar aja, “Eh, aduh.” Beda.

فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَصْرِفَ بَصَرَهُ فِي الْحَالِ. Maka wajib baginya untuk memalingkan pandangannya seketika itu juga. Caliak, langsung palingkan pandangan gitu, dipalingkan pandangannya. Jadi pandangan yang tanpa disengaja awalnya itu tidak ada dosa. فَإِنْ صَرَفَهُ فِي الْحَالِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ. Kalau seandainya dalam keseketika itu juga dia palingkan, ya tidak ada dosa baginya. وَإِنِ اسْتَدَامَ النَّظَرَ أَثِمَ لِهَذَا الْحَدِيثِ. Kalau pandangannya tadi dipertahankannya, dicaliak taruih, ya, maka dia berdosa, berdasarkan hadis ini. فَإِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ بِأَنْ يَصْرِفَ بَصَرَهُ. Karena Nabi memerintahkan Jarir bin Abdillah itu untuk memalingkan pandangannya. مَعَ قَوْلِهِ تَعَالَى: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ. Ditambah lagi firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: “قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ.” (Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, laki-laki, orang beriman, agar mereka menundukkan sebagian dari pandangan mereka). مِنْ di sini sebagian. Jadi, ada pandangan yang tidak bisa di apa? Dihindari, yaitu pandangan فُجَاءَةٌ tadi.

قَالَ الْقَاضِي وَقَالَ الْعُلَمَاءُ: وَفِي هَذَا حُجَّةٌ أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَسْتُرَ وَجْهَهَا فِي طَرِيقِهَا، وَإِنَّمَا ذَلِكَ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ لَهَا.
Ulama mengatakan, “Hendaklah orang mukmin ini menundukkan sebagian dari pandangannya.” Ulama mengatakan karena, “Di dalam ini terdapat hujah bahwa tidaklah wajib kepada perempuan untuk menutup wajahnya فِي طَرِيقِهَا (di dalam dia berjalan).” Kalau dia keluar dari rumahnya, ya, tidak wajib menutup wajahnya. “Malah itu adalah sunah yang dianjurkan untuknya.” Ah, sampai ke rumah sunahnya itu cadar tuh. Iya, sunah cadar itu, ya.

Yang menjadi daya tarik ke perempuan itu mana? Wajah. Karena wajah itu tempat fitnah. Kalau enggak, semua wanita itu adalah, tubuh wanita itu adalah fitnah. Jangankan itu, ada orang pakai cadar, pakai baju hitam, ya, pakai cadarlah, bergerak. Kadang-kadang mato awak ado malahan ada daya tarik yang pakai cadar itu daripada yang enggak pakai cadar kadang, ya. Kenapa itu? Karena Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:

إِذَا خَرَجَتِ الْمَرْأَةُ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ.

“Apabila wanita keluar dari rumahnya, setan menghiasinya.” Ya, apakah dia berjalan bersama setan? Enggak. Setan berusaha untuk menjadikan dia itu indah sehingga menggoda laki-laki. Maka wanita itu enggak usahlah (sering keluar), di rumah gitu. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ. Tetaplah berada di rumah. Tapi keluar, “Ambo, istri ambo pakai cadar.” Bagus, ya. Karena memang daya tarik utama pada perempuan itu adalah wajah. “Istri ambo kan enggak rancak.” Ada. Kalau enggak rancak enggak akan, enggak akan sukanya kan. Walaupun rancak itu akan ee berbeda-beda, relatif. Ada orang suka hitam manis, hitamnya jinih mati Jawa, ya.

Baik. Jadi ada ulama mengatakan bahwa menutup wajah itu wajib. Dari hal ini menunjukkan bahwa mayoritas ulama mengatakan dianjurkan untuk menutup wajah itu.
وَيَجِبُ عَلَى الرِّجَالِ غَضُّ الْبَصَرِ عَنْهَا فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ إِلَّا لِغَرَضٍ صَحِيحٍ شَرْعِيٍّ.
Wajiblah bagi laki-laki untuk menundukkan pandangannya dalam seluruh keadaan kecuali untuk tujuan yang benar dan syar’i. Adakah tujuan yang syar’i melihat perempuan? Ada, ya, mau nikah, itulah namanya an-nazar, ya. Atau yang kedua menjadi saksi, ya, ada rencana terpikir kali enggak. Ee kemudian dari bagian dari tindakan medis misalkan, ya, enggak mungkin enggak dicaliak kalau kita ngambiak. Nah, di sini وَهُوَ حَالَةُ الشَّهَادَةِ (yaitu keadaan waktu menjadi kesaksian). Saksi kita cari, “Eh, ini iya yang jadi saksi atau enggak? Betul atau tidak?” Itu caliak orang. وَالْمُدَاوَاةُ (berobat), ya, Pak Dokter. وَإِرَادَةُ خِطْبَتِهَا (pengin untuk melamarnya). Biko mambali kuciang dalam karuang, kan salah ambil nanti jadinya. Atau waktu masih ada perbudakan, ya, membeli budak, ya, kayak tadi, enggak mau beli kucing dalam karung, gitu kan. Atau مُعَامَلَةٌ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ (jual beli), ya, jual beli itu perlu kita caliak yang magiah itu, ya. “Ini, ya, lah dia ambil barang itu, datang beli, Pak.” “Kejanya kok barang ada, Pak?” “Aku kejanya,” kan awak enggak tahu dah siapa yang membeli tadi, kan gitu kan. Jadi itu adalah hal yang dibolehkan. وَغَيْرُ مَا فِي مَعْنَى ذَلِكَ. Yang lainnya seperti itu.

وَإِنَّمَا يُبَاحُ فِي جَمِيعِ هَذَا قَدْرُ الْحَاجَةِ دُونَ مَا زَادَ.
Dalam yang dibolehkan tadi itu hanya dibolehkan sesuai dengan kebutuhan. Kaki sakit itu, jangan mancaliak badannya. Ya. Jadi kalau misalkan ee apa namanya? Ee dia jadi saksi misalkan, saksi tentu dilihat wajahnya seperti apa, enggak perlu lagi dilihat yang lain, sesuai dengan kebutuhan, tanpa melihat yang lebih dari itu. Ya, yakni الضَّرُورَةُ itu kan kondisi darurat itu, kondisi dibutuhkannya, تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا (diukur sesuai dengan ukurannya). Ya, perlunya begini, ya sudah itu aja, tidak lebih dari itu.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ. Mudah-mudahan bermanfaat, ya.


94